Tahun yang baru menakutkan.
Jika semua orang menghitungnya mundur dan bersorak ramai saat detik pertama tahun baru dimulai, aku malah mencoba mengerti kenapa mereka begitu gembira merayakannya. Tahun baru menakutkanku. Faktanya, semua hal yang mengandung ketidakpastian menakutkanku. Dalam beberapa bulan, aku akan selesai menjalani usia sebagai seorang remaja. Usia remaja bagiku adalah masa-masa sulit yang penuh perjuangan. Perjuangan untuk lebih memaafkan diri sendiri. Memaafkan orang lain dan takdir. Memaafkan Tuhan. Perjuangan untuk tetap bertahan di sini, berpijak tegak.
Mungkin masa remajaku akan berakhir enam bulan lagi dari sekarang. Tapi tetap saja itu sangat menakutkan. Namun aku berusaha berpijak pada realita bahwa usia akan terus bertambah, waktu terus bergulir dan tak ada yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya terus berjalan. Kita hanya manusia-manusia yang cuma bisa pasrah dipermainkan temali waktu dan takdir yang menarik-tarik tak menentu. Kadang kencang. Kadang lambat. Kadang nyaman.
Tapi seringnya menyakitkan.
Selasa, 05 Januari 2016
Jumat, 23 Oktober 2015
Memelihara Ariana Grande di Kandang Marmut
Siapa yang nggak percaya saya punya bintang Hollywood di kandang marmut saya? Berarti kalian masih waras! Tenang, saya tidak benar-benar memelihara Ariana Grande di kandang marmut, tapi Ariana dan Grande adalah nama marmut adik saya.
Kenapa bisa diberi nama Ariana Grande?
Kita kembali ke sejarah awal, ya.
Ketika itu, adik saya minta dibelikan seekor marmut untuk peliharaannya.
Mungkin dia kesepian ya, tidak ada teman main, entahlah. Singkat cerita,
akhirnya dia punya seekor marmut jantan yang dibeli di Pasar Selopampang.
Marmut itu dibeli pada pertengahan bulan Ramadhan, namun kala itu ia belum
diberi nama. Hingga setelah diskusi sejenak, akhirnya saya dan kakak serta adik
perempuan saya sepakat menamainya Shus Boks karena ia pertama kali diletakkan
di shoes box (kotak sepatu) ketika pertama kali dibeli.
Shus akhirnya menjalani kehidupannya
di keluarganya yang baru, keluarga besar Taufiqur-Rohman. Selamat datang di
keluarga, bung! Namun hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga bulan
berganti bulan. Setelah sekian lama, Shus tak tahan hidup sendiri. Ia bagaikan
perjaka yang merindukan gadis desa yang cantik jelita.
| Dari kiri ke kanan: Joko, Grande, dan Ariana |
Atas keprihatinan bersama, akhirnya
ayah saya menyarankan untuk membelikan marmut betina untuk menemani hari-hari
Shus yang kesepian. Adik saya pun membeli seekor marmut betina di teman
sekelasnya. Ternyata, temannya teman adik saya ada yang turut prihatin dan
memutuskan memberi adik saya sepasang marmut lagi, dan yang ini adalah marmut
anggora! Bulu-bulunya mengembang dan sangat menyenangkan untuk dilihat dan
dielus.
Rabu, 15 April 2015
Empat Hari di Bekasi
Langsung saja, ini hari ketiganya. Dan masih ada satu hari lagi, besok.
Ini sudah hari ketiga kami di Bekasi. Aku, Musa, Anam dan Rizky pergi ke Bekasi untuk mengikuti UN Paket C. Lho, kami nggak lulus? Sabar dulu, jangan langsung mengambil kesimpulan spekulatif. Kami sekolah di Pesantren Media, jadi kami sekolahnya menggunakan sistem home schooling, tidak menggunakan sistem diknas seperti sekolah-sekolah negeri. Makanya kami ikut UN nya yang paket C.
Nggak tahu kenapa, sekarang tuh kalau ada orang ikut Paket C pasti dipandangnya sebelah mata. Contohnya aja kemarin, waktu aku update status tentang aku ikutan UN, seorang temanku di FB nanya, "Kamu UN ya? Semangat eaa..."
Nggak persis gitu sih, tapi intinya gitu (lha trus gimana)
Rabu, 08 April 2015
CERPEN: "KUCING HITAM DI BALIK JENDELA"
Kucing
itu datang lagi. Dia seperti biasa, duduk di balik jendela kamarku atau jendela
ruang baca. Menatapku dengan tenang,
namun tatapannya penuh waspada. Penuh curiga. Sudah berkali-kali aku berusaha
mengusirnya. Namun setiap kali dia pergi, keesokan harinya dia pasti datang
lagi. Bahkan pernah suatu malam, ketika mimpi buruk membangunkanku, kucing itu
tiba-tiba saja sudah ada di sana, di balik jendela. Aku berteriak kaget lalu
segera mengusirnya.
Entah
apa yang kucing itu lakukan di sana setiap hari. Seperti tidak ada kerjaan lain
saja. Sudah berbulan-bulan hal ini terjadi, dan semakin hari mimpiku semakin
buruk saja semenjak kehadiran kucing
hitam itu. Kini, mimpi buruk itu semakin sering terjadi sehingga dapat membangunkanku
di malam hari sampai berkali-kali. Setiap kali terbangun, aku dapat melihat
kucing itu. Mengawasiku dengan mata waspadanya.
Aku
berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Tiba-tiba saja lamunanku
terbuyarkan. Elsa masuk, dengan mata sayunya dan rambutnya yang berantakan,
efek obat-obatan. Tatapannya memang selalu kosong. Sudah lama aku tidak
berbicara kepada Elsa, begitu pula sebaliknya. Selama ini, kami selalu bertemu.
Kadang hanya saling tatap saja, tapi tak pernah saling berbicara. Jadi aku
tidak mau membicarakan soal kucing itu dengannya. Meski kucing itu seramnya
minta ampun, tapi biarlah ini menjadi rahasia kecilku saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
