Kucing
itu datang lagi. Dia seperti biasa, duduk di balik jendela kamarku atau jendela
ruang baca. Menatapku dengan tenang,
namun tatapannya penuh waspada. Penuh curiga. Sudah berkali-kali aku berusaha
mengusirnya. Namun setiap kali dia pergi, keesokan harinya dia pasti datang
lagi. Bahkan pernah suatu malam, ketika mimpi buruk membangunkanku, kucing itu
tiba-tiba saja sudah ada di sana, di balik jendela. Aku berteriak kaget lalu
segera mengusirnya.
Entah
apa yang kucing itu lakukan di sana setiap hari. Seperti tidak ada kerjaan lain
saja. Sudah berbulan-bulan hal ini terjadi, dan semakin hari mimpiku semakin
buruk saja semenjak kehadiran kucing
hitam itu. Kini, mimpi buruk itu semakin sering terjadi sehingga dapat membangunkanku
di malam hari sampai berkali-kali. Setiap kali terbangun, aku dapat melihat
kucing itu. Mengawasiku dengan mata waspadanya.
Aku
berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Tiba-tiba saja lamunanku
terbuyarkan. Elsa masuk, dengan mata sayunya dan rambutnya yang berantakan,
efek obat-obatan. Tatapannya memang selalu kosong. Sudah lama aku tidak
berbicara kepada Elsa, begitu pula sebaliknya. Selama ini, kami selalu bertemu.
Kadang hanya saling tatap saja, tapi tak pernah saling berbicara. Jadi aku
tidak mau membicarakan soal kucing itu dengannya. Meski kucing itu seramnya
minta ampun, tapi biarlah ini menjadi rahasia kecilku saja.